
Medha.id.Meningkatnya minat masyarakat terhadap pengalaman liburan yang lebih beragam membuat destinasi yang mampu menghadirkan kombinasi antara rekreasi, eksplorasi, hiburan, kuliner, dan budaya kini semakin menjadi pilihan utama. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari tempat untuk berkunjung, tetapi destinasi yang menawarkan cerita sekaligus pengalaman yang inovatif dan beragam.
Di tengah hadirnya berbagai destinasi di Jakarta, Kawasan PIK menjadi salah satu pilihan utama karena menawarkan pengalaman wisata yang komprehensif dalam satu kawasan. Mulai dari kuliner, atmosfer tepi laut yang hidup, hingga spot-spot yang membawa pengunjung menelusuri kembali jejak budaya Nusantara. Setiap sudut di kawasan ini memiliki daya tariknya sendiri, menciptakan kesan yang sulit dilupakan pada setiap kunjungan.
Baca juga: Pesan Langsung dan Nikmati Lebih Banyak Keuntungan dengan Jayakarta Club
Menjelajahi ragam cerita, sejarah, dan budaya di PIK
Kawasan PIK terus berkembang menjadi ruang wisata yang dinamis. Bukan hanya sekedar destinasi hiburan dan kuliner, tetapi hadir sebagai ruang budaya, seni, dan desain yang saling melengkapi. Seluruh inisiatif ini dirangkum dalam kampanye PIK Berbudaya, yang memperkenalkan kembali keberagaman Nusantara melalui perpaduan sejarah, seni pertunjukan, kuliner, serta kreativitas kontemporer dalam satu rangkaian pengalaman.
Di Pantjoran PIK, jejak sejarah dan budaya Tionghoa Indonesia dihadirkan melalui arsitektur, kuliner, dan perayaan budaya yang hidup. Kawasan ini kini tampil dengan wajah baru, menghadirkan ragam tenant UMKM lokal dan pengalaman kuliner yang lebih beragam. Mulai dari jajanan legendaris hingga kekinian, pengunjung dapat menelusuri cita rasa hidangan yang berkembang dari generasi ke generasi. Beberapa di antaranya merupakan usaha keluarga yang bertahan puluhan tahun, menjadikan setiap hidangan bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita dan tradisi yang terus diwariskan.
Baca juga: Investor Pasar Modal Indonesia Terus Bertambah Tembus 20 Juta
Dalam waktu dekat, Pantjoran juga akan membuka Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI), destinasi yang merayakan warisan budaya hasil akulturasi sekaligus menjadi ruang komunitas yang edukatif dan inklusif. GBTI menawarkan pengalaman kuratorial yang membawa pengunjung memahami perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Indonesia, mulai dari tradisi hingga kisah yang membentuk identitas mereka hari ini. Melalui koleksi yang disusun naratif, pengunjung dapat melihat bagaimana budaya Tionghoa berbaur dengan nilai-nilai lokal dan melahirkan warisan yang unik, jarang ditemukan dalam pengalaman wisata sehari-hari.
Kedepannya, GBTI juga akan menghadirkan program budaya yang lebih luas, mulai dari workshop, community gathering & discussion, pameran kontemporer, hingga pertunjukan seni tradisi seperti wayang potehi yang menampilkan perpaduan budaya Tionghoa dan Indonesia yang sarat akan pesan moral.
Baca juga: Wamenpar Cek Kesiapan Destinasi Wisata Bogor Jelang Libur Nataru
Pengalaman menapaki sejarah juga hadir di Batavia PIK, yang memadukan arsitektur kolonial dengan sentuhan modern. Pengunjung diajak menyusuri suasana Jakarta tempo dulu melalui kanal, kuliner khas, dan lanskap yang terinspirasi Batavia abad ke-19. Kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga berkembang sebagai ruang komunitas dan platform kolaborasi lintas disiplin melalui berbagai program budaya dan seni pertunjukan yang dihadirkan secara berkelanjutan.





