Memasak dengan Empati
Di balik luasnya rekam jejak kuliner yang ia miliki, Chef Mitz menggambarkan gaya memasaknya dengan satu kata sederhana: “empati”. Inspirasi kulinernya mencerminkan perjalanan lintas budaya yang telah membentuk kariernya. Ia banyak mendapatkan inspirasi dari kuliner Italia, khususnya Napoli, sementara disiplin warisan budaya Jepangnya menjadi fondasi utama untuk menginterpretasikan setiap rasa.
Namun bagi Chef Mitz, keberhasilan sebuah hidangan selalu bermula dari tamu, bukan dari sang chef.
Baca juga: Rayakan Halloween Lebih Seru dengan Kuliner Tematik dan Live DJ di Avenzel Hotel and Convention
“Bagi saya, tamu selalu menjadi yang utama. Ini bukan tentang gaya atau ego seorang chef. Kreasi saya sendiri justru menjadi pertimbangan terakhir,” jelasnya.
Filosofi yang mengutamakan tamu ini akan menjadi landasan arah kuliner Chef Mitz di Hard Rock Hotel Bali. Ia akan memimpin beragam operasional kuliner hotel sekaligus terus mengembangkan pengalaman bersantap yang menyeimbangkan kualitas, kreativitas, konsistensi, serta karakter unik dari setiap konsep restoran.
Menemukan Ritme Baru di Hard Rock Hotel Bali
Di luar kesibukan dapur, kepribadian Chef Mitz memiliki keterkaitan yang alami dengan identitas Hard Rock yang terinspirasi oleh musik. Musik telah lama menjadi bagian penting dalam kehidupannya, dengan selera yang mencakup alternative rock, musik kontemporer, hingga komposisi klasik. Pilihan musiknya saat memasak pun dapat berubah mengikuti suasana dan ritme di dapur, mulai dari musik penuh energi hingga karya klasik yang membantunya menjaga konsentrasi dan mendorong kreativitas.
Baca juga: Hermina Grand Ballroom Jadi Pilihan Venue Meeting Eksklusif dengan Harga Mulai Rp200 Ribu
Dengan perpaduan disiplin kuliner Jepang, eksplorasi rasa internasional, pengalaman panjang di Bali, kepemimpinan dalam operasional berskala besar, serta filosofi memasak yang berlandaskan empati, Chef Mitsuaki Senoo memulai babak baru bersama Hard Rock Hotel Bali dengan satu fokus sederhana: menciptakan hidangan yang menempatkan tamu sebagai poros dari setiap pengalaman bersantap.




