
Medha.id. Di balik gemuruh ombak dan kemilau pasir putih yang memikat dunia, Indonesia menapaki babak baru dalam pengelolaan pariwisata, khususnya Pariwisata Bahari. Bukan sekadar mengagumi keindahan, sebuah gerakan bersama kini tumbuh untuk mentransformasi pola pikir dan memastikan napas alam kepulauan tetap panjang.
Para penggerak lingkungan, pelaku industri, dan pemangku kebijakan menyuarakan optimisme dengan menempatkan pengelolaan sampah sebagai titik krusial dalam menjaga keberlanjutan destinasi wisata. Perubahan dimulai dari cara seseorang memandang tanggung jawab, bahwa keindahan alam adalah hasil dari upaya yang diperjuangkan bersama.
Baca juga: Engagement Celebration Gaya Baru Perayaan Lamaran di Jakarta Pusat
Aktivis lingkungan sekaligus Founder Ecotourism Bali, Suzy Hutomo, menekankan bahwa sampah bukanlah urusan ‘orang lain’, melainkan tanggung jawab pribadi yang melekat pada setiap individu.
“Aktor pariwisata harus menyadari bahwa keindahan Bali yang luar biasa ini sebanding dengan usaha yang kita berikan. Kita harus mau ‘repot’ dan berinvestasi untuk mengurus sampah,” ujar Suzy Hutomo usai menjadi moderator dalam acara Bali Ocean Days di Jimbaran Convention Center, InterContinental Bali Resort, Sabtu (31/1/2026).
Ia juga menyoroti pentingnya peran wisatawan dalam menjaga destinasi. Bagi Suzy, operator wisata bahari tidak hanya melayani, tetapi juga membimbing wisatawan agar berperilaku selaras dengan kelestarian alam.
Baca juga: Menteri Ekraf Dorong Jakarta Toys and Comic Fair Jadi Wadah IP Lokal Global
“Ini membutuhkan kolaborasi dan struktur yang kuat untuk benar-benar mempertahankan keindahan alam Bali dan Indonesia,” katanya.
Selaras dengan semangat tersebut, CEO Wedoo, Valerine Chandrakesuma, menyampaikan bahwa keberlanjutan lingkungan bahari merupakan persoalan kompleks yang harus dikerjakan secara bergotong royong. Menurutnya, kesehatan laut adalah jantung dari ekonomi pariwisata.
Baca juga: THE 1O1 Sedayu Darmawangsa Sajikan Bukber Nusantara yang Bikin Nagih
“Wisatawan memiliki banyak pilihan destinasi di dunia. Jika terumbu karang rusak dan ikan bermigrasi karena air yang tercemar, pesona menyelam dan berselancar kita akan hilang. Koral dan laut kita adalah salah satu yang terindah di dunia. Menjaganya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk masa depan,” kata Valerine.





